SMALL
BOOK
DAKWAH
MULTI KULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Oleh
: Husen
DAFTAR
ISI
Definisi dan Ruang
Lingkup Dakwah Multikultural
Basis dan
Pendekatan Dakwah Multikultural
Tujuan, Fungsi dan
Peranan Dakwah Dalam Komunikasi Lintas budaya
Dakwah Dalam
Komunikasi Antar Etnik, Ras dan Bangsa
Dakwah Dalam
Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya
Unsur-unsur
Komunikasi Lintas Budaya
Aktivitas
Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal
Hambatan
Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Modern
1.
Definisi
dan Ruang Lingkup Dakwah Multikultural
·
Latar
Belakang
Islam masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke 12.
Sebelum Islam masuk ke Indonesia di Nusantara ini sudah ada beberapa agama
antara lain Hindu, Budha dan agama asli Nusantara yang mungkin masih dekat
dengan Animisme dan Dinamisme. Islam di Indonesia tidak sama dengan di
negara-negara arab sana. Hal tersebut dikarenakan sudah terjadi nilai-nilai
akulturasi ajaran islam dengan nilai-nilai budaya lokal yang ada di indonesia.
Oleh karena itu perlu pengkonsepan strategi dakwah agar mudah diterima oleh
semua kalangan baik ras, suku, dll.
Pada sekitar abad ke-14 islam disebarkan oleh Walisongo. Mereka adalah tokoh islam yang sangat terkenal dan dihormati ditanah pulau jawa. Para Wali Songo adalah pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok tanam, kebudayaan, dagang, kesenian hingga ke pemerintah.
·
Definisi
Makna kata dakwah secara istilah menurut beberapa ahli adalah: a. Menurut Thoha Yahya Omar. Dakwah, mengajak manusia dengan cara yang bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan didunia dan akherat. b. Menurut Aboebakar Atjeh. Dakwah adalah perintah mengajak seruan kepada sesama manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik[1]. Perintah dakwah telah diperintahkan allah dalam Q.S Al-Imran : 104
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
”Dan
hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka
itulah orang-orang yang beruntung.”
·
Multikultural
Multikultural adalah istilah yang digunakan
untuk menggambarkan pandangan seseorang tentang berbagai kehidupan di bumi,
atau kebijakan yang menekankan penerimaan keragaman budaya, dan berbagai budaya
nilai-nilai (multikultural) masyarakat, sistem, budaya, adat istiadat, dan
politik yang mereka pegang.[2] Jadi, yang dimaksud dengan Dakwah Multikultural
adalah aktifitas menyeru kepada jalan Allah melalui usaha-usaha mengetahui
karakter budaya suatu masyarakat sebagai kunci utama untuk memberikan pemahaman
dan mengembangkan dakwah agar dapat tersampaikan dengan tetap terpeliharanya
situasi damai.
·
Komunikasi
Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna
antara orang-orang yang berbeda budaya. Ketika komunikasi tersebut terjadi
antara orang-orang berbeda bangsa(international), antaretnik(interethnical),
kelompok ras(interracial), atau komunikasi bahasa(intercommunal), disebut
komunikasi lintas budaya.
Komunikasi lintas budaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna
antara orang-orang yang berbeda budaya. Ketika komunikasi tersebut terjadi
antara orang-orang berbeda bangsa(international), antaretnik(interethnical),
kelompok ras(interracial), atau komunikasi bahasa(intercommunal), disebut
komunikasi lintas budaya.
Komunikasi
Lintas Budaya dalam pengertian yang lebih luas lagi, merupakan pertukaran pesan
yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua
orang yang berbeda latar belakang budaya.
·
Ruang
Lingkup
Komunikasi merupakan kebutuhan dasar seseorang yang hidup dalam
masyarakat, tanpa komunikasi masyarakat tidak dapat terbentuk, sebaliknya komunikasi
manusia tidak dapat berkembang tanpa adanya masyarakat. Manusia adalah makhluk
sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Dalam kehidupan manusia, kita selalu
berinteraksi satu sama lain dan dengan lingkungan. Manusia memiliki kelompok
besar dan kelompok kecil. Budaya adalah konsep yang membangkitkan minat. Budaya
secara resmi didefinisikan sebagai urutan pengetahuan, pengalaman, keyakinan,
nilai, sikap, dan makna, dan diturunkan dari generasi ke generasi melalui upaya
individu dan kolektif. Dibutuhkan komunikasi untuk membuat satu budaya bertemu
dengan budaya lain.
·
Kesimpulan
Dakwah multikultural mengajak manusia untuk mengikuti jalan Tuhan dengan
tidak menghilangkan budaya yang sudah ada sebelumnya, karena budaya sangat erat
kaitannya dengan tubuh setiap orang, sehingga pertukaran antar budaya
menciptakan rasa aman dan toleransi yang indah.
2.
Basis
dan Pendekatan Dakwah Multikultural
Dalam bahasa Indonesia, “dakwah” diartikan sebagai
upaya membangun masyarakat dengan kondisi yang beragam, agama, kepercayaan,
suku dan budaya yang beragam. Oleh karena itu, sebagai multi budaya dengan
berbagai agama dan kepercayaan, kerukunan dan toleransi yang ditegakkan itu
mahal, dan sangat penting untuk persatuan dan kesatuan bangsa. Perselisihan
antar kelompok agama yang berbeda dapat menimbulkan konflik dan
ketidaksepakatan dan pada akhirnya merugikan minoritas. Dalam konteks
multikulturalisme Indonesia, situasi ini tentunya membutuhkan strategi dakwah
yang khusus.
Motivasi ilmiah Islam memahami semangat dakwah untuk
menyampaikan pesan suci dan luhur yang bersumber dari ajaran agama. Dalam
kehidupan bermasyarakat, dakwah telah menjadi bagian dari kehidupan dan gerak
dinamis, yang membutuhkan jiwa luhur baik lahir maupun batin. Inti dakwah
setidaknya mencakup dua hal. Mengundang kebaikan dan mencegah kejahatan atau
pengkhianatan (amar ma'ruf nahi munkar). Pada hakikatnya dakwah adalah
pendidikan masyarakat, dan pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita
pendidikan nasional. Tujuan yang ditetapkan oleh pendidikan nasional ini
memandang moral agama sebagai bagian penting dari proses dakwah.
Sasaran dakwah adalah mereka yang membutuhkan hiburan.
Ketika pemandu berisi unsur hiburan, mereka akan menerima pesan. Dengan cara
ini dakwah menjadi semacam informasi yang menarik. Dai sepertinya seorang
penampil panggung, demi kepuasan penonton, ia harus pandai berimprovisasi. Ini
hanyalah salah satu contoh komunitas dimana kegiatan dakwah menghadapi
perbedaan budaya, hobi, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan perbedaan lainnya.
Dalam menyampaikan ajaran agama, dakwah tidak harus
menjaga jarak dengan budaya lokal. Perlunya memperlakukan berbagai budaya dalam
masyarakat secara adil sebagai titik awal sosialisasi ajaran agama. Sejak Islam
masuk ke Indonesia, Islam telah lama menjadi metode dakwah melalui kombinasi
pedoman dan kacamata. Misalnya pada masyarakat Jawa, peran Sunan Kalijaga sudah
tidak asing lagi dengan penggunaan media kesenian wayang sebagai media dakwah.
Jenis seni ini merupakan alat penting sarana budaya.
Sebagai objek multikulturalisme yang kompleks,
konsekuensinya juga memerlukan langkah dan strategi yang kompleks. Dimanapun
Dawa berada dan melalui Madia manapun, tujuannya adalah untuk menyeimbangkan
perkembangan masyarakat dan budaya sekuler yang murni dikomersialkan. Meski
masih perlu diperdalam lebih jauh, karena tidak mungkin memahami langsung
dampak kegiatan dakwah, betapa beratnya bobotnya. Namun, setidaknya jika
dipadukan dengan kegiatan lain (seperti kegiatan di bidang bisnis) dan inovasi
di bidang pendidikan, dapat tetap sinkron pada saat yang bersamaan. Berdasarkan
argumen ini, dakwah multikulturalisme membutuhkan sinergi antara ormas Islam,
ormas Islam, dan ormas di bawah pemerintahan, dan hal-hal berikut ini perlu
diperhatikan:
·
Masyarakat
multikultural adalah tujuan Dakwah, yang harus dimaknai sebagai kesediaan untuk
menerima perbedaan dari kelompok lain.
·
Kelompok pemeluk agama yang berbeda dalam
masyarakat dapat melindungi diri dan tidak melakukan dakwah agama. Di sisi
lain, masyarakat ingin mereka mencari titik temu sehingga tidak membuka peluang
konflik antar agama.
·
Lembaga
Dakwah sangat penting dalam memperkuat masyarakat multidisiplin. Sebagai
lembaga kemasyarakatan, Lembaga Dakwah perlu meningkatkan kemampuannya dalam
menyelenggarakan olahraga guna mengembangkan potensi yang besar untuk
meningkatkan taraf hidup masyarakat, serta membangun kreativitas dan rekayasa
sosial.
·
Kepatuhan
terhadap hukum juga diartikan sebagai kepatuhan terhadap nilai-nilai yang telah
ditetapkan bersama, yang bertumpu pada ajaran agama, tradisi, dan hasil dari
proses adaptasi dan integrasi antar budaya. Hubungan yang harmonis antar
individu dan antar kelompok agama yang berbeda serta antar latar belakang
budaya dan ras yang berbeda harus dijaga dengan baik, tanpa merasa terpaksa
atau dipaksa oleh partai politik lain.
3.
Tujuan,
Fungsi dan Peranan Dakwah Dalam Komunikasi Antar Budaya
Fenomena dan obyek dakwah sangat beragam, sehingga
umat Islam dihadapkan pada berbagai tantangan kapanpun dan dimanapun. Melihat
banyaknya jenis objek dakwah, dakwah pun memiliki strategi dakwah yang beragam.
Begitu pula dengan budaya objek Dakwah juga sangat beragam.
Pengertian big tile lintas budaya pada hakikatnya
merupakan upaya mewujudkan keimanan, yang tercermin dalam sistem kepercayaan
kehidupan manusia di bidang sosial yang dilaksanakan secara berkala untuk
mempengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku dan perilaku masyarakat baik antar
individu maupun individu. jalan. Ranah sosial budaya dalam rangka mewujudkan
semua aspek ajaran Islam melalui pemanfaatan kehidupan.
Da'i harus mampu menyampaikan materi ke mad'u dengan
jelas dan dapat diterima oleh mad'u. Karena bila da'i bisa memahami mad'u-nya,
dia dianggap berhasil. Dalam komunikasi disebut komunikasi efektif. Untuk
memenuhi persyaratan ini, Dai harus mampu memahami situasi mad'u. Disinilah
pentingnya komunikasi lintas budaya, karena dengan memahami budaya yang ada
maka dakwah dapat terlaksana dengan baik.
Komunikasi dan dakwah tidak bisa dipisahkan. Karena
dakwah adalah salah satu jenis kegiatan komunikasi. Tapi lebih khusus lagi, ini
tentang pertukaran Islam, penyebaran Islam, dan nasehat yang baik dan buruk.
Dakwah dan komunikasi lintas budaya sangat dibutuhkan di sini. Memperhatikan
keragaman budaya Indonesia, Dada dituntut untuk menjadi Dada yang profesional.
Metode dakwah yang benar harus digunakan. Menurut status dakwah, konsekuensi
dakwah sebagai variabel dan masalah kehidupan sosial sebagai variabel lainnya,
keberadaan dakwah akan selalu dihubungkan dengan realitas sosial budaya yang
ada di sekitarnya, demikian pula dengan keberadaan dakwah. Wah dalam masyarakat
dapat dilihat dari fungsi dan perannya dalam mempengaruhi perubahan sosial,
lahirlah masyarakat ideal baru (khoiru ummah). Pada hakikatnya dakwah adalah
pendidikan masyarakat, dan pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita
pendidikan nasional. Tujuan yang ditetapkan oleh pendidikan nasional ini
memandang moralitas agama sebagai bagian penting dari proses dakwah.
Dakwah antarbudaya merupakan proses dakwah yang
memperhatikan keragaman budaya antara dai (tema dakwah) dan mad'u (objek
dakwah) serta keragaman alasan penghambat interaksi lintas budaya. , Sehingga
dapat menyampaikan pesan Dakwah dengan tetap menjaga situasi damai[2]. Dakwah
lintas budaya adalah kajian tentang proses dakwah yang mengajak masyarakat
untuk menyebarkan informasi tentang Islam dan tingkah laku keislaman
berdasarkan konsep pembangunan sosial budaya. Inti dari dakwah antarbudaya
adalah bagaimana kita menggunakan budaya sebagai bahan, metode, alat dan
strategi dakwah sesuai dengan kondisi budaya budaya sasaran (mad'u). Karena
setiap orang, setiap tempat, wilayah dan lingkungan memiliki kondisi sosial
budaya yang berbeda. Karena itu, caranya juga berbeda. Penelitian dakwah lintas
budaya melibatkan penelitian ilmiah dakwah, antara lain:
·
Mengkaji
dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’i dengan mad’u yang berbeda
latar belakang budaya yang dimilikinya dalam perjalanan para da’i.
·
Menelaah
unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan
unsur para da’i, materi, metode, media, mad’u dan dimensi ruang dan waktu dalam
keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah.
·
Mengkaji
tentang karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i
maupun yang menjadi mad’u melalui
kerangka metodologi dalam antropologi.
·
Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang
dilakukan oleh masing-masing etnis.
·
Mengkaji
problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya dan upaya-upaya solusi
yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistansi jati diri budaya
masing-masing.
4.
Dakwah
dalam Komunikasi Lintas Budaya (Etnik, Ras dan Bangsa)
Tentu saja, dalam hal komunikasi, sangat mudah
menemukan banyak makna. Walaupun terdapat berbagai macam definisi komunikasi,
namun makna atau esensi dari definisi tersebut tetap tidak berubah. Komunikasi
adalah proses dinamis yang dilakukan oleh manusia melalui perilaku verbal dan
non verbal, yang dikirim dan diterima oleh orang lain dan ditanggapi. Yang lain
percaya bahwa komunikasi adalah proses pertukaran informasi, pikiran, dan
emosi. Proses ini tidak hanya mencakup informasi yang disampaikan dalam bentuk
tertulis dan tertulis, tetapi juga informasi yang disampaikan melalui bahasa
tubuh, gaya dan penampilan atau penggunaan alat-alat di sekitar kita untuk
memperkaya informasi.
Secara umum, "Dakwah" adalah menggunakan
berbagai media dan metode untuk menyampaikan informasi Dawa dari Dayi ke Madu
untuk mencapai tujuan Dakwah. Namun yang membedakan pembahasan dakwah di sini
adalah pembahasan dakwah berasal dari latar belakang yang berbeda, seperti
perbedaan budaya antara dakwah dan mad'u. Dakwah ini disebut dakwah lintas
budaya. Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah, yang memperhatikan
keragaman budaya antara da'i dan mad'u.
Dalam dakwah
antarbudaya, keberagaman menjadi tantangan bagi dakwah untuk menghimpun
informasi dakwah yang lebih berakal dengan memperhatikan kondisi positif budaya
mad'u (termasuk memperhatikan media dan cara yang diyakini berdampak). da'i dan
mad'u lebih dekat. Perbedaan bahasa, budaya dan lingkungan hidup mungkin
menjadi masalah penting dalam proses dakwah.
Dakwah dalam tataran normatif dan praktis, tidak dapat
terlepas dari proses komunikasi sebab keberhasilan seorang da‟i tidak bisa
lepas dari kemampuannya dalam mengkomunikasikan ajaran - ajaran Islam kepada masyarakat.
Apabila diperhatikan secara seksama dan mendalam maka pengertian dakwah tidak
lain adalah komunikasi. Dakwah dapat dipahami sebagai sebuah ajakan untuk
melakukan tindakan positif dan meninggalkan tindakan yang negatif. Sebuah
ajakan untuk melakukan tindakan positif merupakan proses komunikasi. Tetapi
dakwah merupakan komunikasi yang khas, berbeda dengan komunikasi yang lain.
Sebenarnya hal yang membedakan antara komunikasi dan
dakwah terletak pada unsur pesannya (message), karena dakwah adalah merupakan
proses untuk melakukan amar ma‟ruf nahi munkar yang bersandarkan ajaran-ajaran
Islam yaitu Al-Qur‟an dan al Hadits Nabi, sementara komunikasi unsur pesannya
bersifat umum. Sementara menurut Toto Tasmara yang membedakan antara dakwah dan
komunikasi terletak pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Tujuan dari
komunikasi mengharapkan adanya partisipasi dari komunikan atas idea-idea atau
pesan-pesan yang disampaikan dari komunikator, sehingga dengan pesan yang
disampaikan tersebut terjadilah perubahan dan tingkah laku yang diharapkan.
Sedangkan dakwah, ciri yang membedakannya cara pendekatan menggunakan persuasif
dan tujuannya yaitu mengaharapkan perubahan sikap dan tingkah laku sesuai
dengan ajaran-ajaran Islam.
Melalui dakwah lintas budaya menjadikan Islam lebih
fleksibel dan mudah diterima di semua lapisan masyarakat, meskipun berbeda
sosio-kultural, maupun norma. Metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau
tradisi lama, menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat
majemuk. Untuk mencapai semua itu, seorang da‟i harus mempunyai planning atau
rencana yang disebut dengan strategi. Strategi dalam dakwah lintas budaya harus
dirancang dengan matang sehingga tujuan dakwah bisa tercapai. Hal ini harus
dengan mempertimbangkan baik dari segi materi dakwah, maupun metodenya.
Proses dakwah lintas budaya tidak bisa lepas dari
proses komunikasi lintas budaya, yang mana keduanya itu saling berhubungan. Di
dalam dakwah lintas budaya mengenal beberapa teori untuk interaksi antara da’i
dan mad’u. Teori-teori tersebut yaitu pertama, resistance theory (Teori
Resistensi) atau teori penolakan. Dasar asumsi teori ini adalah bahwa setiap
aktivitas dakwah akan selalu menghadapkan variabel da’i dan mad’u. Ketika
interaksi terjadi penentangan bahkan sikap dan respons penolakkan tak terelakan
khususnya penolakan dari mad’u. Penolakkan tersebut adalah konsekuensi logis
akibat proses difusi budaya dari budaya yang berbeda. Ada beberapa kemungkinan
apabila teori resistensi ini terjadi. Misalnya, terjadi gejolak budaya pada
level mad’u begitu juga gejolak pada diri sang da’i, atau terjadi gejolak
antara da’i dan mad’u dalam suatu kondisi. Terjadi dominasi salah satu kekuatan
gagasan dan budaya baik pada da’i maupun mad’u.
5.
Dakwah
Dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya
Islam sebagai rahmatan lil alamin bukan hanya agama
yang mengatur semua aspek kehidupan manusia. Islam juga merupakan agama yang
beradab, yang membawa berkah bagi alam semesta, bukan agama yang skuler.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tonggak kebenaran
dipegang oleh para sahabat, kemudian diganti oleh tabi’in. Setelah itu tabi’
tabi’in, kemudian para ulama sebagai penerus dakwah Islamiyah.
Baru -baru ini ada istilah “Islam Nusantara” yang
sebenarnya itu tidak perlu diperdebatkan tentang boleh dan tidaknya Islam
Nusantara. Menurut Ali Mustofa Ya’qub
bahwa antara agama (Islam) dengan budaya (Nusantara) itu berbeda. Jadi agama
dan budaya tidak dapat disatukan. Akan lebih tepat jika artinya adalah Islam
yang bercorak budaya, yaitu dalam budaya tersebut terdapat nilai-nilai yang
sesuai dengan ajaran Islam seperti keluhuran budi pekerti, toleransi, keadilan,
dan kesantunan.
Islam di Indonesia terbukti mampu berinteraksi dengan
budaya lokal. Terjadinya akulturasi budaya dan agama tidak terlepas dari
kegigihan dakwah Walisongo dan para wali lainya di Jawa. Para wali dalam
melakukan Islamisasi atau menghayati agama berdasarkan tiga hal penting yakni
toleran, moderat dan akomodatif. Bagi seorang muslim, keimanan yang dibalut
dengan simbol-simbol tidaklah cukup. Orang yang telah beriman harus
disempurnakan dengan amal dan ibadah yang baik, serta perilaku yang terpuji
(akhlaq al-karimah).
Fenomena akulturasi budaya dengan agama di Jawa juga
menyebabkan terjadinya dua hal. Pertama, agama Islam dibalut dengan budaya
jawa. Kedua, kebudayaan jawa yang dibalut dengan Islam. Islam yang dibalut
dengan kebudayaan Jawa, misalnya, Maulid Nabi, Rajaban, Selikuran (pada malam
yang diduga Lailatul Qadar), dan lain sebagainya.
Sedangkan budaya Jawa yang dibalut dengan Islam
misalnya, sekaten, mitoni, ngupati, ruwatan dan lain-lain. Sejatinya jika kita
mau mendalami dan mengkaji tradisi budaya masyarakat Jawa sebagaimana
dicontohkan di atas sebenarnya terdapat dasarnya.
Sebagai muslim sudah
jangan menyalahkan, memusyrikkan, apalagi mengkafirkan muslim yang lain.
Sejatinya muslim yang mengamalkan amalan-amalan seperti diatas mempunyai dasar
dan pegangan tersendiri. karena ulama ketika berdakwah sebenarnya berprinsip
dengan istilah kaidah al-muhafadzatu ‘ala al-muqadimil shaalih wal akhdu bi
al-jaddidil ashlah, menjaga tradisi lama yang positif dan mengambil tradisi
baru yang lebih positif.
6.
Unsur-unsur
Komunikasi Lintas Budaya
Pada hakikatnya proses komunikasi antar budaya sama
halnya dengan komunikasi lain, yakni proses interaktif, transaksional dan
dinamis.
a.
Interaktif
Interaktif
adalah komunikasi antara komunikator dan komunikan dalam komunikasi dua arah,
tetapi masih berada di tahap rendah
b.
Transaksional
Komunikasi
antar budaya transaksional bisa disebut sebagai komunikasi tahap tinggi karena
di sini komunikator dan komunikan sudah melibatkan perasaan dan tindakan yang
saling dimengerti dan dipahami satu sama lain.
3 penting unsur transaksional
·
melibatkan
emosi yang tinggi dan berlangsung terus menerus dan berkesinambungan
·
melibatkan
waktu saat komunikasi (berkaitan masa lalu,kini, dan yang akan datang)
·
partisipan
memiliki peran tertentu.
c.
Dinamis
Komunikasi antarbudaya pada dasarnya bersifat dinamis
karena berlangsung dalam konteks sosial yang hidup berkembang dan bahkan
berubah-ubah berdasarkan waktu situasi dan kondisi tertentu.
Komunikasi antar budaya sebagai komunikasi antar
orang-orang dengan perbedaan budaya. Yang dimana dinyatakan bahwa salah satu
alasan kita mempelajari komunikasi antar budaya adalah untuk meningkatkan
kepedulian diri.
Unsur-unsur komunikasi antarbudaya:
·
People
/ Manusia
Manusia dalam proses komunikasi tentunya melibatkan
beberapa orang yang masing-masing memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai
sumber pesan dan sebagai penerima pesan.. tik setiap individu tidaklah menampilkan
kedua peran ini sebagai independent. Melainkan, mereka berperan sebagai sumber
pesan dan penerima secara simultan dan berkesinambungan
·
Message
/ Pesan
Pesan dalam komunikasi antar budaya dapat berupa pesan
verbal dan pesan nonverbal sebagai bentuk dari gagasan atau ide pemikiran
ataupun perasaan yang sumber pesan ingin disampaikan atau komunikasikan kepada
orang lain atau sekelompok orang yakni penerima pesan
·
Code
Kode titik yang dimaksud dengan kode adalah sebuah
susunan sistematis dari simbol-simbol yang digunakan untuk menciptakan makna.
Simbol-simbol yang dimaksud berupa kata-kata, frasa, dan kalimat yang digunakan
untuk membangkitkan atau menciptakan gambar pemikiran, dan ide di dalam pikiran
orang lain
·
Channel
/ Media
Media atau channel titik yang dimaksud dengan channel
adalah saluran atau media yang menjadi aluran pesan dari sumber pesan kepada
penerima pesan. Sebuah pesan bergerak dalam satu tempat ke tempat lainnya, atau
dari satu orang ke orang lain melalui sebuah media atau channel. Saluran atau
media komunikasi dapat berupa gelombang udara, gelombang suara kabel
·
Feedback
/ Umpan Balik
Merupakan tanggapan yang diberikan oleh penerima pesan
yang berupa tanggapan verbal ataupun tanggapan nonverbal
·
Encoding
Encoding didefinisikan sebagai sebuah proses
mengartikan atau menyandi sebuah ide atau pemikiran kedalam sebuah kode titik.
7.
Aktivitas
Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal
Komunikasi verbal adalah adalah bentuk komunikasi yang
disampaikan komunikator kepada komunikan dengan cara tertulis atau lisan. Oleh
karena itu komunikasi lintas budaya memiliki variasi-variasi lintas budaya
dalam gaya bahasa dan komunikasi verbal mempengaruhi bagaimana orang dari
budaya yang berbeda melakukan komunikasi. Terdapat beberapa aspek bahasa dan
penggunaan dialek yang penting dalam memahami komunikasi kita dengan orang
asing. Sikap kita terhadap bahasa dan dialek orang lain mempengaruhi bagaimana
kita merespon orang lain, terlepas dari apakah kita mempelajari bahasa orang
lain. Ketika kita menggunakan bahasa dan dialek orang lain maka disitu kita
sedang berinteraksi dengan orang lain yang kita temani berkomunikasi. Contoh
aktivitas komunikasi lintas budaya verbal sebagai berikut :
·
Intonasi
Dalam Berbicara
Intonasi
berbicara adalah salah satu contoh yang bisa kita amati dalam komunikasi verbal
ini kita bisa melihat intonasi setiap orang berbeda beda. Misalkan orang Jawa
yang cenderung lebih lemah lembut saat berbicara dan orang orang Batak yang
berbicara cenderung lebih tegas
·
Waktu
Pembicaraan
Terdapat
diberbagai daerah yang muda lebih memperhatikan yang lebih tua dan ada juga
yang membebaskan berbicara atau mengekspresikan dirinya.
·
Kecepatan
Dalam Berbicra
Faktor ini
juga mempengaruhi pemahaman dalam berbicara karena hal ini juga harus
diperhatikan dalam komunikasi lintas budaya verbal. Misalkan orang Jawa yang
cenderung lebih lemah lembut daripada orang Medan yang lebih cepat saat
bertutur kata.
·
Gaya
Bicara
Gaya bicara
juga merupakan hal yang perlu diperhatikan pada saat lintas budaya ini terjadi
pembawaan seseorang akan menampilkan karakteristik budaya yang ia bawakan hal
ini memang wajar saat berinteraksi lintas budaya.
·
Bahasa
Bahasa tentu
saja menjadi perbedaan dalam komunikasi lintas budaya perbedaan bahasa dapat
menjadi kendalah oleh karena itu dibutuhkanya penerjemah bahasa lain dan itu
merupakan hambatan dalam komunikasi lintas budaya.
Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi di mana pesan disampaikan
tidak menggunakan kata-kata, tetapi menggunakan Bahasa isyarat, simbol dan
ekspresi wajah. Dalam proses-proses nonverbal yang relevan dengan komunikasi
lintas budaya, terdapat tiga aspek yang sangat berkaitan: perilaku nonverbal
yang berfungsi sebagai bentuk bahasa diam, konsep waktu, dan pengaturan ruang.
Perilaku nonverbal seseorang adalah akar budaya seseorang tersebut. Oleh
karena itu, posisi komunikasi nonverbal memainkan bagian yang penting dan
sangat dibutuhkan dalam interaksi komunikatif di antara hubungan antara
komunikasi verbal dengan kebudayaan jelas adanya, apabila diingat bahwa
keduanya dipelajari, diwariskan dan melibatkan pengertian-pengertian yang harus
dimiliki bersama. Komunikasi nonverbal
membantu da'i dalam berdakwah, agar mad'u paham apa yang da'i jelaskan atau
sampaikan
8.
Hambatan
Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Moderen
Hambatan semantik atau bahasa. Hambatan bahasa menjadi
kendala utama, karena bahasa merupakan alat komunikasi utama. Ketika
disampaikan melalui bahasa, pikiran, pikiran dan perasaan dapat dipahami.
Bahasa biasanya dibagi menjadi dua ciri, yaitu bahasa lisan dan bahasa
nonverbal. Bahasa sebagai jembatan antar individu dipelajari dalam konteks.
Fokus penelitian bahasa selalu berkaitan dengan perbedaan budaya (golongan,
ras, suku, norma, nilai, agama).
Cara manusia menggunakan bahasa sebagai media
komunikasi sangat bermacam-macam antara suatu budaya dengan budaya lain, bahkan
dalam satu budaya sekalipun. Salah satu aspek penting yang berpengaruh dalam
komunikasi adalah pemakaian bahasa non verbal.
Sikap Etnosentresme. Konsep ini mewakili suatu
pengertian bahwa setiap kelompok etnik atau ras mempunyai semangat dan
iodeologi untuk menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior dari pada kelompok
etnis atau ras yang lain. Akibat ideologi ini maka setiap entik atau ras akan
memiliki sikap etnosentrisme atau rasisme yang tinggi. Sikap etnosentresme dan
rasisme itu berbentuk prasangka, streotip, diskriminasi dan jarak sosial
terhadap kelompok lain.
Prasangka merupakan salah satu hambatan atau hambatan
utama dalam kegiatan komunikasi, karena orang berprasangka tidak dapat menerima
komunikator yang meragukan dan menentang inisiasi komunikasi. Dalam prasangka,
emosi memaksa kita untuk menarik kesimpulan berdasarkan asumsi alih-alih
menggunakan pikiran dan pendapat kita pada fakta nyata. Karena itu, begitu
prasangka terselubung, orang tidak akan bisa berpikir secara objektif, dan
semua yang mereka lihat akan disangkal.
Stereotip. “Stereotip adalah pandangan umum dari suatu kelompok masyarakat lain. Pandangan umum ini biasanya bersifat negatif. Stereotip biasanya merupakan refrensi pertama (penilaian umum) ketika seseorang atau kelompok melihat orang atau kelompok lain”.
Diskriminasi diartikan sebagai tindakan yang berbeda
dan kurang bersahabat dari kelompok dominan atau para anggotanya terhadap
kelompok subordinasinya dalam artian ras atau etnis. Diskriminasi mengarah pada
tindakan tertentu.Perilaku diskriminatif biasanya dilakukan oleh orang-orang
dengan prasangka yang sangat kuat karena tekanan tertentu, seperti tekanan
budaya, adat istiadat, kebiasaan, atau hukum. Menurut Zastro, diskriminasi
merupakan faktor yang melemahkan kerjasama atau komunikasi manusia di antara
peserta komunikasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar