Jumat, 18 Juni 2021

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

 

SMALL BOOK

DAKWAH MULTI KULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Oleh : Husen

 

DAFTAR ISI

Definisi dan Ruang Lingkup Dakwah Multikultural 

Basis dan Pendekatan Dakwah Multikultural

Tujuan, Fungsi dan Peranan Dakwah Dalam Komunikasi Lintas budaya    

Dakwah Dalam Komunikasi Antar Etnik, Ras dan Bangsa  

Dakwah Dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya     

Unsur-unsur Komunikasi Lintas Budaya      

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal         

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Modern        

1.      Definisi dan Ruang Lingkup Dakwah Multikultural

·         Latar Belakang

Islam masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke 12. Sebelum Islam masuk ke Indonesia di Nusantara ini sudah ada beberapa agama antara lain Hindu, Budha dan agama asli Nusantara yang mungkin masih dekat dengan Animisme dan Dinamisme. Islam di Indonesia tidak sama dengan di negara-negara arab sana. Hal tersebut dikarenakan sudah terjadi nilai-nilai akulturasi ajaran islam dengan nilai-nilai budaya lokal yang ada di indonesia. Oleh karena itu perlu pengkonsepan strategi dakwah agar mudah diterima oleh semua kalangan baik ras, suku, dll.

Pada sekitar abad ke-14 islam disebarkan oleh Walisongo. Mereka adalah tokoh islam yang sangat terkenal dan dihormati ditanah pulau jawa. Para Wali Songo adalah pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok tanam, kebudayaan, dagang, kesenian hingga ke pemerintah.

·         Definisi

Makna kata dakwah secara istilah menurut beberapa ahli adalah: a. Menurut Thoha Yahya Omar. Dakwah, mengajak manusia dengan cara yang bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan didunia dan akherat. b. Menurut Aboebakar Atjeh. Dakwah adalah perintah mengajak seruan kepada sesama manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik[1]. Perintah dakwah telah diperintahkan allah dalam Q.S Al-Imran : 104

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

”Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

·         Multikultural

  Multikultural adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pandangan seseorang tentang berbagai kehidupan di bumi, atau kebijakan yang menekankan penerimaan keragaman budaya, dan berbagai budaya nilai-nilai (multikultural) masyarakat, sistem, budaya, adat istiadat, dan politik yang mereka pegang.[2] Jadi, yang dimaksud dengan Dakwah Multikultural adalah aktifitas menyeru kepada jalan Allah melalui usaha-usaha mengetahui karakter budaya suatu masyarakat sebagai kunci utama untuk memberikan pemahaman dan mengembangkan dakwah agar dapat tersampaikan dengan tetap terpeliharanya situasi damai.

·         Komunikasi Lintas Budaya

Komunikasi lintas budaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang yang berbeda budaya. Ketika komunikasi tersebut terjadi antara orang-orang berbeda bangsa(international), antaretnik(interethnical), kelompok ras(interracial), atau komunikasi bahasa(intercommunal), disebut komunikasi lintas budaya.

Komunikasi lintas budaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang yang berbeda budaya. Ketika komunikasi tersebut terjadi antara orang-orang berbeda bangsa(international), antaretnik(interethnical), kelompok ras(interracial), atau komunikasi bahasa(intercommunal), disebut komunikasi lintas budaya.

Komunikasi Lintas Budaya dalam pengertian yang lebih luas lagi, merupakan pertukaran pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.

·         Ruang Lingkup

Komunikasi merupakan kebutuhan dasar seseorang yang hidup dalam masyarakat, tanpa komunikasi masyarakat tidak dapat terbentuk, sebaliknya komunikasi manusia tidak dapat berkembang tanpa adanya masyarakat. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Dalam kehidupan manusia, kita selalu berinteraksi satu sama lain dan dengan lingkungan. Manusia memiliki kelompok besar dan kelompok kecil. Budaya adalah konsep yang membangkitkan minat. Budaya secara resmi didefinisikan sebagai urutan pengetahuan, pengalaman, keyakinan, nilai, sikap, dan makna, dan diturunkan dari generasi ke generasi melalui upaya individu dan kolektif. Dibutuhkan komunikasi untuk membuat satu budaya bertemu dengan budaya lain.

·         Kesimpulan

Dakwah multikultural mengajak manusia untuk mengikuti jalan Tuhan dengan tidak menghilangkan budaya yang sudah ada sebelumnya, karena budaya sangat erat kaitannya dengan tubuh setiap orang, sehingga pertukaran antar budaya menciptakan rasa aman dan toleransi yang indah.

2.      Basis dan Pendekatan Dakwah Multikultural

Dalam bahasa Indonesia, “dakwah” diartikan sebagai upaya membangun masyarakat dengan kondisi yang beragam, agama, kepercayaan, suku dan budaya yang beragam. Oleh karena itu, sebagai multi budaya dengan berbagai agama dan kepercayaan, kerukunan dan toleransi yang ditegakkan itu mahal, dan sangat penting untuk persatuan dan kesatuan bangsa. Perselisihan antar kelompok agama yang berbeda dapat menimbulkan konflik dan ketidaksepakatan dan pada akhirnya merugikan minoritas. Dalam konteks multikulturalisme Indonesia, situasi ini tentunya membutuhkan strategi dakwah yang khusus.

 

Motivasi ilmiah Islam memahami semangat dakwah untuk menyampaikan pesan suci dan luhur yang bersumber dari ajaran agama. Dalam kehidupan bermasyarakat, dakwah telah menjadi bagian dari kehidupan dan gerak dinamis, yang membutuhkan jiwa luhur baik lahir maupun batin. Inti dakwah setidaknya mencakup dua hal. Mengundang kebaikan dan mencegah kejahatan atau pengkhianatan (amar ma'ruf nahi munkar). Pada hakikatnya dakwah adalah pendidikan masyarakat, dan pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita pendidikan nasional. Tujuan yang ditetapkan oleh pendidikan nasional ini memandang moral agama sebagai bagian penting dari proses dakwah.

Sasaran dakwah adalah mereka yang membutuhkan hiburan. Ketika pemandu berisi unsur hiburan, mereka akan menerima pesan. Dengan cara ini dakwah menjadi semacam informasi yang menarik. Dai sepertinya seorang penampil panggung, demi kepuasan penonton, ia harus pandai berimprovisasi. Ini hanyalah salah satu contoh komunitas dimana kegiatan dakwah menghadapi perbedaan budaya, hobi, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan perbedaan lainnya.

Dalam menyampaikan ajaran agama, dakwah tidak harus menjaga jarak dengan budaya lokal. Perlunya memperlakukan berbagai budaya dalam masyarakat secara adil sebagai titik awal sosialisasi ajaran agama. Sejak Islam masuk ke Indonesia, Islam telah lama menjadi metode dakwah melalui kombinasi pedoman dan kacamata. Misalnya pada masyarakat Jawa, peran Sunan Kalijaga sudah tidak asing lagi dengan penggunaan media kesenian wayang sebagai media dakwah. Jenis seni ini merupakan alat penting sarana budaya.

Sebagai objek multikulturalisme yang kompleks, konsekuensinya juga memerlukan langkah dan strategi yang kompleks. Dimanapun Dawa berada dan melalui Madia manapun, tujuannya adalah untuk menyeimbangkan perkembangan masyarakat dan budaya sekuler yang murni dikomersialkan. Meski masih perlu diperdalam lebih jauh, karena tidak mungkin memahami langsung dampak kegiatan dakwah, betapa beratnya bobotnya. Namun, setidaknya jika dipadukan dengan kegiatan lain (seperti kegiatan di bidang bisnis) dan inovasi di bidang pendidikan, dapat tetap sinkron pada saat yang bersamaan. Berdasarkan argumen ini, dakwah multikulturalisme membutuhkan sinergi antara ormas Islam, ormas Islam, dan ormas di bawah pemerintahan, dan hal-hal berikut ini perlu diperhatikan:

·         Masyarakat multikultural adalah tujuan Dakwah, yang harus dimaknai sebagai kesediaan untuk menerima perbedaan dari kelompok lain.

·          Kelompok pemeluk agama yang berbeda dalam masyarakat dapat melindungi diri dan tidak melakukan dakwah agama. Di sisi lain, masyarakat ingin mereka mencari titik temu sehingga tidak membuka peluang konflik antar agama.

·         Lembaga Dakwah sangat penting dalam memperkuat masyarakat multidisiplin. Sebagai lembaga kemasyarakatan, Lembaga Dakwah perlu meningkatkan kemampuannya dalam menyelenggarakan olahraga guna mengembangkan potensi yang besar untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, serta membangun kreativitas dan rekayasa sosial.

·         Kepatuhan terhadap hukum juga diartikan sebagai kepatuhan terhadap nilai-nilai yang telah ditetapkan bersama, yang bertumpu pada ajaran agama, tradisi, dan hasil dari proses adaptasi dan integrasi antar budaya. Hubungan yang harmonis antar individu dan antar kelompok agama yang berbeda serta antar latar belakang budaya dan ras yang berbeda harus dijaga dengan baik, tanpa merasa terpaksa atau dipaksa oleh partai politik lain.

3.      Tujuan, Fungsi dan Peranan Dakwah Dalam Komunikasi Antar Budaya

Fenomena dan obyek dakwah sangat beragam, sehingga umat Islam dihadapkan pada berbagai tantangan kapanpun dan dimanapun. Melihat banyaknya jenis objek dakwah, dakwah pun memiliki strategi dakwah yang beragam. Begitu pula dengan budaya objek Dakwah juga sangat beragam.

Pengertian big tile lintas budaya pada hakikatnya merupakan upaya mewujudkan keimanan, yang tercermin dalam sistem kepercayaan kehidupan manusia di bidang sosial yang dilaksanakan secara berkala untuk mempengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku dan perilaku masyarakat baik antar individu maupun individu. jalan. Ranah sosial budaya dalam rangka mewujudkan semua aspek ajaran Islam melalui pemanfaatan kehidupan.

Da'i harus mampu menyampaikan materi ke mad'u dengan jelas dan dapat diterima oleh mad'u. Karena bila da'i bisa memahami mad'u-nya, dia dianggap berhasil. Dalam komunikasi disebut komunikasi efektif. Untuk memenuhi persyaratan ini, Dai harus mampu memahami situasi mad'u. Disinilah pentingnya komunikasi lintas budaya, karena dengan memahami budaya yang ada maka dakwah dapat terlaksana dengan baik.

Komunikasi dan dakwah tidak bisa dipisahkan. Karena dakwah adalah salah satu jenis kegiatan komunikasi. Tapi lebih khusus lagi, ini tentang pertukaran Islam, penyebaran Islam, dan nasehat yang baik dan buruk. Dakwah dan komunikasi lintas budaya sangat dibutuhkan di sini. Memperhatikan keragaman budaya Indonesia, Dada dituntut untuk menjadi Dada yang profesional. Metode dakwah yang benar harus digunakan. Menurut status dakwah, konsekuensi dakwah sebagai variabel dan masalah kehidupan sosial sebagai variabel lainnya, keberadaan dakwah akan selalu dihubungkan dengan realitas sosial budaya yang ada di sekitarnya, demikian pula dengan keberadaan dakwah. Wah dalam masyarakat dapat dilihat dari fungsi dan perannya dalam mempengaruhi perubahan sosial, lahirlah masyarakat ideal baru (khoiru ummah). Pada hakikatnya dakwah adalah pendidikan masyarakat, dan pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita pendidikan nasional. Tujuan yang ditetapkan oleh pendidikan nasional ini memandang moralitas agama sebagai bagian penting dari proses dakwah.

Dakwah antarbudaya merupakan proses dakwah yang memperhatikan keragaman budaya antara dai (tema dakwah) dan mad'u (objek dakwah) serta keragaman alasan penghambat interaksi lintas budaya. , Sehingga dapat menyampaikan pesan Dakwah dengan tetap menjaga situasi damai[2]. Dakwah lintas budaya adalah kajian tentang proses dakwah yang mengajak masyarakat untuk menyebarkan informasi tentang Islam dan tingkah laku keislaman berdasarkan konsep pembangunan sosial budaya. Inti dari dakwah antarbudaya adalah bagaimana kita menggunakan budaya sebagai bahan, metode, alat dan strategi dakwah sesuai dengan kondisi budaya budaya sasaran (mad'u). Karena setiap orang, setiap tempat, wilayah dan lingkungan memiliki kondisi sosial budaya yang berbeda. Karena itu, caranya juga berbeda. Penelitian dakwah lintas budaya melibatkan penelitian ilmiah dakwah, antara lain:

 

·         Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’i dengan mad’u yang berbeda latar belakang budaya yang dimilikinya dalam perjalanan para da’i.

 

·         Menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur para da’i, materi, metode, media, mad’u dan dimensi ruang dan waktu dalam keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah.

 

·         Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun yang menjadi mad’u melalui  kerangka metodologi dalam antropologi.

 

·           Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnis.

 

·         Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistansi jati diri budaya masing-masing.

 

4.      Dakwah dalam Komunikasi Lintas Budaya (Etnik, Ras dan Bangsa)

Tentu saja, dalam hal komunikasi, sangat mudah menemukan banyak makna. Walaupun terdapat berbagai macam definisi komunikasi, namun makna atau esensi dari definisi tersebut tetap tidak berubah. Komunikasi adalah proses dinamis yang dilakukan oleh manusia melalui perilaku verbal dan non verbal, yang dikirim dan diterima oleh orang lain dan ditanggapi. Yang lain percaya bahwa komunikasi adalah proses pertukaran informasi, pikiran, dan emosi. Proses ini tidak hanya mencakup informasi yang disampaikan dalam bentuk tertulis dan tertulis, tetapi juga informasi yang disampaikan melalui bahasa tubuh, gaya dan penampilan atau penggunaan alat-alat di sekitar kita untuk memperkaya informasi.

Secara umum, "Dakwah" adalah menggunakan berbagai media dan metode untuk menyampaikan informasi Dawa dari Dayi ke Madu untuk mencapai tujuan Dakwah. Namun yang membedakan pembahasan dakwah di sini adalah pembahasan dakwah berasal dari latar belakang yang berbeda, seperti perbedaan budaya antara dakwah dan mad'u. Dakwah ini disebut dakwah lintas budaya. Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah, yang memperhatikan keragaman budaya antara da'i dan mad'u.

 Dalam dakwah antarbudaya, keberagaman menjadi tantangan bagi dakwah untuk menghimpun informasi dakwah yang lebih berakal dengan memperhatikan kondisi positif budaya mad'u (termasuk memperhatikan media dan cara yang diyakini berdampak). da'i dan mad'u lebih dekat. Perbedaan bahasa, budaya dan lingkungan hidup mungkin menjadi masalah penting dalam proses dakwah.

Dakwah dalam tataran normatif dan praktis, tidak dapat terlepas dari proses komunikasi sebab keberhasilan seorang da‟i tidak bisa lepas dari kemampuannya dalam mengkomunikasikan ajaran - ajaran Islam kepada masyarakat. Apabila diperhatikan secara seksama dan mendalam maka pengertian dakwah tidak lain adalah komunikasi. Dakwah dapat dipahami sebagai sebuah ajakan untuk melakukan tindakan positif dan meninggalkan tindakan yang negatif. Sebuah ajakan untuk melakukan tindakan positif merupakan proses komunikasi. Tetapi dakwah merupakan komunikasi yang khas, berbeda dengan komunikasi yang lain.

Sebenarnya hal yang membedakan antara komunikasi dan dakwah terletak pada unsur pesannya (message), karena dakwah adalah merupakan proses untuk melakukan amar ma‟ruf nahi munkar yang bersandarkan ajaran-ajaran Islam yaitu Al-Qur‟an dan al Hadits Nabi, sementara komunikasi unsur pesannya bersifat umum. Sementara menurut Toto Tasmara yang membedakan antara dakwah dan komunikasi terletak pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Tujuan dari komunikasi mengharapkan adanya partisipasi dari komunikan atas idea-idea atau pesan-pesan yang disampaikan dari komunikator, sehingga dengan pesan yang disampaikan tersebut terjadilah perubahan dan tingkah laku yang diharapkan. Sedangkan dakwah, ciri yang membedakannya cara pendekatan menggunakan persuasif dan tujuannya yaitu mengaharapkan perubahan sikap dan tingkah laku sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.

Melalui dakwah lintas budaya menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima di semua lapisan masyarakat, meskipun berbeda sosio-kultural, maupun norma. Metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama, menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat majemuk. Untuk mencapai semua itu, seorang da‟i harus mempunyai planning atau rencana yang disebut dengan strategi. Strategi dalam dakwah lintas budaya harus dirancang dengan matang sehingga tujuan dakwah bisa tercapai. Hal ini harus dengan mempertimbangkan baik dari segi materi dakwah, maupun metodenya.

Proses dakwah lintas budaya tidak bisa lepas dari proses komunikasi lintas budaya, yang mana keduanya itu saling berhubungan. Di dalam dakwah lintas budaya mengenal beberapa teori untuk interaksi antara da’i dan mad’u. Teori-teori tersebut yaitu pertama, resistance theory (Teori Resistensi) atau teori penolakan. Dasar asumsi teori ini adalah bahwa setiap aktivitas dakwah akan selalu menghadapkan variabel da’i dan mad’u. Ketika interaksi terjadi penentangan bahkan sikap dan respons penolakkan tak terelakan khususnya penolakan dari mad’u. Penolakkan tersebut adalah konsekuensi logis akibat proses difusi budaya dari budaya yang berbeda. Ada beberapa kemungkinan apabila teori resistensi ini terjadi. Misalnya, terjadi gejolak budaya pada level mad’u begitu juga gejolak pada diri sang da’i, atau terjadi gejolak antara da’i dan mad’u dalam suatu kondisi. Terjadi dominasi salah satu kekuatan gagasan dan budaya baik pada da’i maupun mad’u.

5.      Dakwah Dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

Islam sebagai rahmatan lil alamin bukan hanya agama yang mengatur semua aspek kehidupan manusia. Islam juga merupakan agama yang beradab, yang membawa berkah bagi alam semesta, bukan agama yang skuler. 

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tonggak kebenaran dipegang oleh para sahabat, kemudian diganti oleh tabi’in. Setelah itu tabi’ tabi’in, kemudian para ulama sebagai penerus dakwah Islamiyah.

Baru -baru ini ada istilah “Islam Nusantara” yang sebenarnya itu tidak perlu diperdebatkan tentang boleh dan tidaknya Islam Nusantara. Menurut  Ali Mustofa Ya’qub bahwa antara agama (Islam) dengan budaya (Nusantara) itu berbeda. Jadi agama dan budaya tidak dapat disatukan. Akan lebih tepat jika artinya adalah Islam yang bercorak budaya, yaitu dalam budaya tersebut terdapat nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran Islam seperti keluhuran budi pekerti, toleransi, keadilan, dan kesantunan.

Islam di Indonesia terbukti mampu berinteraksi dengan budaya lokal. Terjadinya akulturasi budaya dan agama tidak terlepas dari kegigihan dakwah Walisongo dan para wali lainya di Jawa. Para wali dalam melakukan Islamisasi atau menghayati agama berdasarkan tiga hal penting yakni toleran, moderat dan akomodatif. Bagi seorang muslim, keimanan yang dibalut dengan simbol-simbol tidaklah cukup. Orang yang telah beriman harus disempurnakan dengan amal dan ibadah yang baik, serta perilaku yang terpuji (akhlaq al-karimah).

Fenomena akulturasi budaya dengan agama di Jawa juga menyebabkan terjadinya dua hal. Pertama, agama Islam dibalut dengan budaya jawa. Kedua, kebudayaan jawa yang dibalut dengan Islam. Islam yang dibalut dengan kebudayaan Jawa, misalnya, Maulid Nabi, Rajaban, Selikuran (pada malam yang diduga Lailatul Qadar), dan lain sebagainya.

Sedangkan budaya Jawa yang dibalut dengan Islam misalnya, sekaten, mitoni, ngupati, ruwatan dan lain-lain. Sejatinya jika kita mau mendalami dan mengkaji tradisi budaya masyarakat Jawa sebagaimana dicontohkan di atas sebenarnya terdapat dasarnya.           

Sebagai muslim sudah  jangan menyalahkan, memusyrikkan, apalagi mengkafirkan muslim yang lain. Sejatinya muslim yang mengamalkan amalan-amalan seperti diatas mempunyai dasar dan pegangan tersendiri. karena ulama ketika berdakwah sebenarnya berprinsip dengan istilah kaidah al-muhafadzatu ‘ala al-muqadimil shaalih wal akhdu bi al-jaddidil ashlah, menjaga tradisi lama yang positif dan mengambil tradisi baru yang lebih positif.

6.      Unsur-unsur Komunikasi Lintas Budaya

Pada hakikatnya proses komunikasi antar budaya sama halnya dengan komunikasi lain, yakni proses interaktif, transaksional dan dinamis.

a.        Interaktif

Interaktif adalah komunikasi antara komunikator dan komunikan dalam komunikasi dua arah, tetapi masih berada di tahap rendah

b.      Transaksional

Komunikasi antar budaya transaksional bisa disebut sebagai komunikasi tahap tinggi karena di sini komunikator dan komunikan sudah melibatkan perasaan dan tindakan yang saling dimengerti dan dipahami satu sama lain.

3 penting unsur transaksional

·         melibatkan emosi yang tinggi dan berlangsung terus menerus dan berkesinambungan

·         melibatkan waktu saat komunikasi (berkaitan masa lalu,kini, dan yang akan datang)

·         partisipan memiliki peran tertentu.

c.       Dinamis

Komunikasi antarbudaya pada dasarnya bersifat dinamis karena berlangsung dalam konteks sosial yang hidup berkembang dan bahkan berubah-ubah berdasarkan waktu situasi dan kondisi tertentu.

Komunikasi antar budaya sebagai komunikasi antar orang-orang dengan perbedaan budaya. Yang dimana dinyatakan bahwa salah satu alasan kita mempelajari komunikasi antar budaya adalah untuk meningkatkan kepedulian diri.

Unsur-unsur komunikasi antarbudaya:

·         People / Manusia

Manusia dalam proses komunikasi tentunya melibatkan beberapa orang yang masing-masing memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai sumber pesan dan sebagai penerima pesan.. tik setiap individu tidaklah menampilkan kedua peran ini sebagai independent. Melainkan, mereka berperan sebagai sumber pesan dan penerima secara simultan dan berkesinambungan

·         Message / Pesan

Pesan dalam komunikasi antar budaya dapat berupa pesan verbal dan pesan nonverbal sebagai bentuk dari gagasan atau ide pemikiran ataupun perasaan yang sumber pesan ingin disampaikan atau komunikasikan kepada orang lain atau sekelompok orang yakni penerima pesan

·         Code

Kode titik yang dimaksud dengan kode adalah sebuah susunan sistematis dari simbol-simbol yang digunakan untuk menciptakan makna. Simbol-simbol yang dimaksud berupa kata-kata, frasa, dan kalimat yang digunakan untuk membangkitkan atau menciptakan gambar pemikiran, dan ide di dalam pikiran orang lain

·         Channel / Media

Media atau channel titik yang dimaksud dengan channel adalah saluran atau media yang menjadi aluran pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan. Sebuah pesan bergerak dalam satu tempat ke tempat lainnya, atau dari satu orang ke orang lain melalui sebuah media atau channel. Saluran atau media komunikasi dapat berupa gelombang udara, gelombang suara kabel

·         Feedback / Umpan Balik

Merupakan tanggapan yang diberikan oleh penerima pesan yang berupa tanggapan verbal ataupun tanggapan nonverbal

·         Encoding

Encoding didefinisikan sebagai sebuah proses mengartikan atau menyandi sebuah ide atau pemikiran kedalam sebuah kode titik.

7.      Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal

Komunikasi verbal adalah adalah bentuk komunikasi yang disampaikan komunikator kepada komunikan dengan cara tertulis atau lisan. Oleh karena itu komunikasi lintas budaya memiliki variasi-variasi lintas budaya dalam gaya bahasa dan komunikasi verbal mempengaruhi bagaimana orang dari budaya yang berbeda melakukan komunikasi. Terdapat beberapa aspek bahasa dan penggunaan dialek yang penting dalam memahami komunikasi kita dengan orang asing. Sikap kita terhadap bahasa dan dialek orang lain mempengaruhi bagaimana kita merespon orang lain, terlepas dari apakah kita mempelajari bahasa orang lain. Ketika kita menggunakan bahasa dan dialek orang lain maka disitu kita sedang berinteraksi dengan orang lain yang kita temani berkomunikasi. Contoh aktivitas komunikasi lintas budaya verbal sebagai berikut :

·         Intonasi Dalam Berbicara

Intonasi berbicara adalah salah satu contoh yang bisa kita amati dalam komunikasi verbal ini kita bisa melihat intonasi setiap orang berbeda beda. Misalkan orang Jawa yang cenderung lebih lemah lembut saat berbicara dan orang orang Batak yang berbicara cenderung lebih tegas

·         Waktu Pembicaraan

Terdapat diberbagai daerah yang muda lebih memperhatikan yang lebih tua dan ada juga yang membebaskan berbicara atau mengekspresikan dirinya.

·         Kecepatan Dalam Berbicra

Faktor ini juga mempengaruhi pemahaman dalam berbicara karena hal ini juga harus diperhatikan dalam komunikasi lintas budaya verbal. Misalkan orang Jawa yang cenderung lebih lemah lembut daripada orang Medan yang lebih cepat saat bertutur kata.

·         Gaya Bicara

Gaya bicara juga merupakan hal yang perlu diperhatikan pada saat lintas budaya ini terjadi pembawaan seseorang akan menampilkan karakteristik budaya yang ia bawakan hal ini memang wajar saat berinteraksi lintas budaya.

·         Bahasa

Bahasa tentu saja menjadi perbedaan dalam komunikasi lintas budaya perbedaan bahasa dapat menjadi kendalah oleh karena itu dibutuhkanya penerjemah bahasa lain dan itu merupakan hambatan dalam komunikasi lintas budaya.   

Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi di mana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata, tetapi menggunakan Bahasa isyarat, simbol dan ekspresi wajah. Dalam proses-proses nonverbal yang relevan dengan komunikasi lintas budaya, terdapat tiga aspek yang sangat berkaitan: perilaku nonverbal yang berfungsi sebagai bentuk bahasa diam, konsep waktu, dan pengaturan ruang.

Perilaku nonverbal seseorang adalah akar budaya seseorang tersebut. Oleh karena itu, posisi komunikasi nonverbal memainkan bagian yang penting dan sangat dibutuhkan dalam interaksi komunikatif di antara hubungan antara komunikasi verbal dengan kebudayaan jelas adanya, apabila diingat bahwa keduanya dipelajari, diwariskan dan melibatkan pengertian-pengertian yang harus dimiliki bersama.  Komunikasi nonverbal membantu da'i dalam berdakwah, agar mad'u paham apa yang da'i jelaskan atau sampaikan

8.      Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Moderen

Hambatan semantik atau bahasa. Hambatan bahasa menjadi kendala utama, karena bahasa merupakan alat komunikasi utama. Ketika disampaikan melalui bahasa, pikiran, pikiran dan perasaan dapat dipahami. Bahasa biasanya dibagi menjadi dua ciri, yaitu bahasa lisan dan bahasa nonverbal. Bahasa sebagai jembatan antar individu dipelajari dalam konteks. Fokus penelitian bahasa selalu berkaitan dengan perbedaan budaya (golongan, ras, suku, norma, nilai, agama).

Cara manusia menggunakan bahasa sebagai media komunikasi sangat bermacam-macam antara suatu budaya dengan budaya lain, bahkan dalam satu budaya sekalipun. Salah satu aspek penting yang berpengaruh dalam komunikasi adalah pemakaian bahasa non verbal.

Sikap Etnosentresme. Konsep ini mewakili suatu pengertian bahwa setiap kelompok etnik atau ras mempunyai semangat dan iodeologi untuk menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior dari pada kelompok etnis atau ras yang lain. Akibat ideologi ini maka setiap entik atau ras akan memiliki sikap etnosentrisme atau rasisme yang tinggi. Sikap etnosentresme dan rasisme itu berbentuk prasangka, streotip, diskriminasi dan jarak sosial terhadap kelompok lain.

Prasangka merupakan salah satu hambatan atau hambatan utama dalam kegiatan komunikasi, karena orang berprasangka tidak dapat menerima komunikator yang meragukan dan menentang inisiasi komunikasi. Dalam prasangka, emosi memaksa kita untuk menarik kesimpulan berdasarkan asumsi alih-alih menggunakan pikiran dan pendapat kita pada fakta nyata. Karena itu, begitu prasangka terselubung, orang tidak akan bisa berpikir secara objektif, dan semua yang mereka lihat akan disangkal.

Stereotip. “Stereotip adalah pandangan umum dari suatu kelompok masyarakat lain. Pandangan umum ini biasanya bersifat negatif. Stereotip biasanya merupakan refrensi pertama (penilaian umum) ketika seseorang atau kelompok melihat orang atau kelompok lain”.

Diskriminasi diartikan sebagai tindakan yang berbeda dan kurang bersahabat dari kelompok dominan atau para anggotanya terhadap kelompok subordinasinya dalam artian ras atau etnis. Diskriminasi mengarah pada tindakan tertentu.Perilaku diskriminatif biasanya dilakukan oleh orang-orang dengan prasangka yang sangat kuat karena tekanan tertentu, seperti tekanan budaya, adat istiadat, kebiasaan, atau hukum. Menurut Zastro, diskriminasi merupakan faktor yang melemahkan kerjasama atau komunikasi manusia di antara peserta komunikasi

Sabtu, 12 Juni 2021

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Moderen

 

Hambatan semantik atau bahasa. Hambatan bahasa menjadi kendala utama, karena bahasa merupakan alat komunikasi utama. Ketika disampaikan melalui bahasa, pikiran, pikiran dan perasaan dapat dipahami. Bahasa biasanya dibagi menjadi dua ciri, yaitu bahasa lisan dan bahasa nonverbal. Bahasa sebagai jembatan antar individu dipelajari dalam konteks. Fokus penelitian bahasa selalu berkaitan dengan perbedaan budaya (golongan, ras, suku, norma, nilai, agama).[1]

Cara manusia menggunakan bahasa sebagai media komunikasi sangat bermacam-macam antara suatu budaya dengan budaya lain, bahkan dalam satu budaya sekalipun. Salah satu aspek penting yang berpengaruh dalam komunikasi adalah pemakaian bahasa non verbal.

Sikap Etnosentresme. Konsep ini mewakili suatu pengertian bahwa setiap kelompok etnik atau ras mempunyai semangat dan iodeologi untuk menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior dari pada kelompok etnis atau ras yang lain. Akibat ideologi ini maka setiap entik atau ras akan memiliki sikap etnosentrisme atau rasisme yang tinggi.[2] Sikap etnosentresme dan rasisme itu berbentuk prasangka, streotip, diskriminasi dan jarak sosial terhadap kelompok lain.

Prasangka merupakan salah satu hambatan atau hambatan utama dalam kegiatan komunikasi, karena orang berprasangka tidak dapat menerima komunikator yang meragukan dan menentang inisiasi komunikasi. Dalam prasangka, emosi memaksa kita untuk menarik kesimpulan berdasarkan asumsi alih-alih menggunakan pikiran dan pendapat kita pada fakta nyata. Karena itu, begitu prasangka terselubung, orang tidak akan bisa berpikir secara objektif, dan semua yang mereka lihat akan disangkal.[3]

Stereotip. “Stereotip adalah pandangan umum dari suatu kelompok masyarakat lain. Pandangan umum ini biasanya bersifat negatif. Stereotip biasanya merupakan refrensi pertama (penilaian umum) ketika seseorang atau kelompok melihat orang atau kelompok lain”.[4]

Diskriminasi diartikan sebagai tindakan yang berbeda dan kurang bersahabat dari kelompok dominan atau para anggotanya terhadap kelompok subordinasinya dalam artian ras atau etnis.[5] Diskriminasi mengarah pada tindakan tertentu.Perilaku diskriminatif biasanya dilakukan oleh orang-orang dengan prasangka yang sangat kuat karena tekanan tertentu, seperti tekanan budaya, adat istiadat, kebiasaan, atau hukum. Menurut Zastro, diskriminasi merupakan faktor yang melemahkan kerjasama atau komunikasi manusia di antara peserta komunikasi.[6]

 



[1] Andik Purwasito, Komunikasi Multikultural, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2003) hlm 176-177.

[2] Alo Liliweri, Makna Budaya dalam… hlm. 15

[3] Alo, LIliweri, Prasangka & Konflik Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural (Yogyakarta: PT LKiS, 2005), hlm. 199.

[4] Andik Purwasito, Komunikasi…hlm. 228.

[5] Alo, LIliweri, Prasangka & Konflik Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural (Yogyakarta: PT LKiS, 2005), hlm. 21

[6] Ibid hlm 218

Minggu, 18 April 2021

Dakwah dalam Komunikasi Lintas Budaya (Etnik, Ras dan Bangsa)

 

Tentu saja, dalam hal komunikasi, sangat mudah menemukan banyak makna. Walaupun terdapat berbagai macam definisi komunikasi, namun makna atau esensi dari definisi tersebut tetap tidak berubah. Komunikasi adalah proses dinamis yang dilakukan oleh manusia melalui perilaku verbal dan non verbal, yang dikirim dan diterima oleh orang lain dan ditanggapi.[1] Yang lain percaya bahwa komunikasi adalah proses pertukaran informasi, pikiran, dan emosi. Proses ini tidak hanya mencakup informasi yang disampaikan dalam bentuk tertulis dan tertulis, tetapi juga informasi yang disampaikan melalui bahasa tubuh, gaya dan penampilan atau penggunaan alat-alat di sekitar kita untuk memperkaya informasi[2].

Secara umum, "Dakwah" adalah menggunakan berbagai media dan metode untuk menyampaikan informasi Dawa dari Dayi ke Madu untuk mencapai tujuan Dakwah. Namun yang membedakan pembahasan dakwah di sini adalah pembahasan dakwah berasal dari latar belakang yang berbeda, seperti perbedaan budaya antara dakwah dan mad'u. Dakwah ini disebut dakwah lintas budaya. Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah, yang memperhatikan keragaman budaya antara da'i dan mad'u.[3] Dalam dakwah antarbudaya, keberagaman menjadi tantangan bagi dakwah untuk menghimpun informasi dakwah yang lebih berakal dengan memperhatikan kondisi positif budaya mad'u (termasuk memperhatikan media dan cara yang diyakini berdampak). da'i dan mad'u lebih dekat. Perbedaan bahasa, budaya dan lingkungan hidup mungkin menjadi masalah penting dalam proses dakwah.

Dakwah dalam tataran normatif dan praktis, tidak dapat terlepas dari proses komunikasi sebab keberhasilan seorang da‟i tidak bisa lepas dari kemampuannya dalam mengkomunikasikan ajaran - ajaran Islam kepada masyarakat. Apabila diperhatikan secara seksama dan mendalam maka pengertian dakwah tidak lain adalah komunikasi. Dakwah dapat dipahami sebagai sebuah ajakan untuk melakukan tindakan positif dan meninggalkan tindakan yang negatif. Sebuah ajakan untuk melakukan tindakan positif merupakan proses komunikasi. Tetapi dakwah merupakan komunikasi yang khas, berbeda dengan komunikasi yang lain.

Sebenarnya hal yang membedakan antara komunikasi dan dakwah terletak pada unsur pesannya (message), karena dakwah adalah merupakan proses untuk melakukan amar ma‟ruf nahi munkar yang bersandarkan ajaran-ajaran Islam yaitu Al-Qur‟an dan al Hadits Nabi, sementara komunikasi unsur pesannya bersifat umum. Sementara menurut Toto Tasmara yang membedakan antara dakwah dan komunikasi terletak pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Tujuan dari komunikasi mengharapkan adanya partisipasi dari komunikan atas idea-idea atau pesan-pesan yang disampaikan dari komunikator, sehingga dengan pesan yang disampaikan tersebut terjadilah perubahan dan tingkah laku yang diharapkan. Sedangkan dakwah, ciri yang membedakannya cara pendekatan menggunakan persuasif dan tujuannya yaitu mengaharapkan perubahan sikap dan tingkah laku sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.[4]

Melalui dakwah lintas budaya menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima di semua lapisan masyarakat, meskipun berbeda sosio-kultural, maupun norma. Metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama, menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat majemuk. Untuk mencapai semua itu, seorang da‟i harus mempunyai planning atau rencana yang disebut dengan strategi. Strategi dalam dakwah lintas budaya harus dirancang dengan matang sehingga tujuan dakwah bisa tercapai. Hal ini harus dengan mempertimbangkan baik dari segi materi dakwah, maupun metodenya.

Proses dakwah lintas budaya tidak bisa lepas dari proses komunikasi lintas budaya, yang mana keduanya itu saling berhubungan. Di dalam dakwah lintas budaya mengenal beberapa teori untuk interaksi antara da’i dan mad’u. Teori-teori tersebut yaitu pertama, resistance theory (Teori Resistensi) atau teori penolakan. Dasar asumsi teori ini adalah bahwa setiap aktivitas dakwah akan selalu menghadapkan variabel da’i dan mad’u. Ketika interaksi terjadi penentangan bahkan sikap dan respons penolakkan tak terelakan khususnya penolakan dari mad’u. Penolakkan tersebut adalah konsekuensi logis akibat proses difusi budaya dari budaya yang berbeda. Ada beberapa kemungkinan apabila teori resistensi ini terjadi. Misalnya, terjadi gejolak budaya pada level mad’u begitu juga gejolak pada diri sang da’i, atau terjadi gejolak antara da’i dan mad’u dalam suatu kondisi. Terjadi dominasi salah satu kekuatan gagasan dan budaya baik pada da’i maupun mad’u.



[1] Alo Liliweri, Op, Cit, hlm 162

[2] Ibid, hlm 03

[3] Acep Aripudin, Op. Cit, hlm 25

[4] Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, Jakarta; Gaya Media Pratama, 1997, hlm.39

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

  SMALL BOOK DAKWAH MULTI KULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA Oleh : Husen   DAFTAR ISI Definisi dan Ruang Lingkup Dakwah Multik...