Minggu, 18 April 2021

Dakwah dalam Komunikasi Lintas Budaya (Etnik, Ras dan Bangsa)

 

Tentu saja, dalam hal komunikasi, sangat mudah menemukan banyak makna. Walaupun terdapat berbagai macam definisi komunikasi, namun makna atau esensi dari definisi tersebut tetap tidak berubah. Komunikasi adalah proses dinamis yang dilakukan oleh manusia melalui perilaku verbal dan non verbal, yang dikirim dan diterima oleh orang lain dan ditanggapi.[1] Yang lain percaya bahwa komunikasi adalah proses pertukaran informasi, pikiran, dan emosi. Proses ini tidak hanya mencakup informasi yang disampaikan dalam bentuk tertulis dan tertulis, tetapi juga informasi yang disampaikan melalui bahasa tubuh, gaya dan penampilan atau penggunaan alat-alat di sekitar kita untuk memperkaya informasi[2].

Secara umum, "Dakwah" adalah menggunakan berbagai media dan metode untuk menyampaikan informasi Dawa dari Dayi ke Madu untuk mencapai tujuan Dakwah. Namun yang membedakan pembahasan dakwah di sini adalah pembahasan dakwah berasal dari latar belakang yang berbeda, seperti perbedaan budaya antara dakwah dan mad'u. Dakwah ini disebut dakwah lintas budaya. Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah, yang memperhatikan keragaman budaya antara da'i dan mad'u.[3] Dalam dakwah antarbudaya, keberagaman menjadi tantangan bagi dakwah untuk menghimpun informasi dakwah yang lebih berakal dengan memperhatikan kondisi positif budaya mad'u (termasuk memperhatikan media dan cara yang diyakini berdampak). da'i dan mad'u lebih dekat. Perbedaan bahasa, budaya dan lingkungan hidup mungkin menjadi masalah penting dalam proses dakwah.

Dakwah dalam tataran normatif dan praktis, tidak dapat terlepas dari proses komunikasi sebab keberhasilan seorang da‟i tidak bisa lepas dari kemampuannya dalam mengkomunikasikan ajaran - ajaran Islam kepada masyarakat. Apabila diperhatikan secara seksama dan mendalam maka pengertian dakwah tidak lain adalah komunikasi. Dakwah dapat dipahami sebagai sebuah ajakan untuk melakukan tindakan positif dan meninggalkan tindakan yang negatif. Sebuah ajakan untuk melakukan tindakan positif merupakan proses komunikasi. Tetapi dakwah merupakan komunikasi yang khas, berbeda dengan komunikasi yang lain.

Sebenarnya hal yang membedakan antara komunikasi dan dakwah terletak pada unsur pesannya (message), karena dakwah adalah merupakan proses untuk melakukan amar ma‟ruf nahi munkar yang bersandarkan ajaran-ajaran Islam yaitu Al-Qur‟an dan al Hadits Nabi, sementara komunikasi unsur pesannya bersifat umum. Sementara menurut Toto Tasmara yang membedakan antara dakwah dan komunikasi terletak pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Tujuan dari komunikasi mengharapkan adanya partisipasi dari komunikan atas idea-idea atau pesan-pesan yang disampaikan dari komunikator, sehingga dengan pesan yang disampaikan tersebut terjadilah perubahan dan tingkah laku yang diharapkan. Sedangkan dakwah, ciri yang membedakannya cara pendekatan menggunakan persuasif dan tujuannya yaitu mengaharapkan perubahan sikap dan tingkah laku sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.[4]

Melalui dakwah lintas budaya menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima di semua lapisan masyarakat, meskipun berbeda sosio-kultural, maupun norma. Metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama, menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat majemuk. Untuk mencapai semua itu, seorang da‟i harus mempunyai planning atau rencana yang disebut dengan strategi. Strategi dalam dakwah lintas budaya harus dirancang dengan matang sehingga tujuan dakwah bisa tercapai. Hal ini harus dengan mempertimbangkan baik dari segi materi dakwah, maupun metodenya.

Proses dakwah lintas budaya tidak bisa lepas dari proses komunikasi lintas budaya, yang mana keduanya itu saling berhubungan. Di dalam dakwah lintas budaya mengenal beberapa teori untuk interaksi antara da’i dan mad’u. Teori-teori tersebut yaitu pertama, resistance theory (Teori Resistensi) atau teori penolakan. Dasar asumsi teori ini adalah bahwa setiap aktivitas dakwah akan selalu menghadapkan variabel da’i dan mad’u. Ketika interaksi terjadi penentangan bahkan sikap dan respons penolakkan tak terelakan khususnya penolakan dari mad’u. Penolakkan tersebut adalah konsekuensi logis akibat proses difusi budaya dari budaya yang berbeda. Ada beberapa kemungkinan apabila teori resistensi ini terjadi. Misalnya, terjadi gejolak budaya pada level mad’u begitu juga gejolak pada diri sang da’i, atau terjadi gejolak antara da’i dan mad’u dalam suatu kondisi. Terjadi dominasi salah satu kekuatan gagasan dan budaya baik pada da’i maupun mad’u.



[1] Alo Liliweri, Op, Cit, hlm 162

[2] Ibid, hlm 03

[3] Acep Aripudin, Op. Cit, hlm 25

[4] Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, Jakarta; Gaya Media Pratama, 1997, hlm.39

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

  SMALL BOOK DAKWAH MULTI KULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA Oleh : Husen   DAFTAR ISI Definisi dan Ruang Lingkup Dakwah Multik...