Tentu
saja, dalam hal komunikasi, sangat mudah menemukan banyak makna. Walaupun
terdapat berbagai macam definisi komunikasi, namun makna atau esensi dari
definisi tersebut tetap tidak berubah. Komunikasi adalah proses dinamis yang
dilakukan oleh manusia melalui perilaku verbal dan non verbal, yang dikirim dan
diterima oleh orang lain dan ditanggapi.[1]
Yang lain percaya bahwa komunikasi adalah proses pertukaran informasi,
pikiran, dan emosi. Proses ini tidak hanya mencakup informasi yang disampaikan
dalam bentuk tertulis dan tertulis, tetapi juga informasi yang disampaikan
melalui bahasa tubuh, gaya dan penampilan atau penggunaan alat-alat di sekitar
kita untuk memperkaya informasi[2].
Secara umum, "Dakwah" adalah
menggunakan berbagai media dan metode untuk menyampaikan informasi Dawa dari
Dayi ke Madu untuk mencapai tujuan Dakwah. Namun yang membedakan pembahasan
dakwah di sini adalah pembahasan dakwah berasal dari latar belakang yang
berbeda, seperti perbedaan budaya antara dakwah dan mad'u. Dakwah ini disebut
dakwah lintas budaya. Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah, yang
memperhatikan keragaman budaya antara da'i dan mad'u.[3] Dalam dakwah antarbudaya, keberagaman menjadi tantangan
bagi dakwah untuk menghimpun informasi dakwah yang lebih berakal dengan
memperhatikan kondisi positif budaya mad'u (termasuk memperhatikan media dan
cara yang diyakini berdampak). da'i dan mad'u lebih dekat. Perbedaan bahasa,
budaya dan lingkungan hidup mungkin menjadi masalah penting dalam proses dakwah.
Dakwah
dalam tataran normatif dan praktis, tidak dapat terlepas dari proses komunikasi
sebab keberhasilan seorang da‟i tidak bisa lepas dari kemampuannya dalam
mengkomunikasikan ajaran - ajaran Islam kepada masyarakat. Apabila diperhatikan
secara seksama dan mendalam maka pengertian dakwah tidak lain adalah
komunikasi. Dakwah dapat dipahami sebagai sebuah ajakan untuk melakukan
tindakan positif dan meninggalkan tindakan yang negatif. Sebuah ajakan untuk
melakukan tindakan positif merupakan proses komunikasi. Tetapi dakwah merupakan
komunikasi yang khas, berbeda dengan komunikasi yang lain.
Sebenarnya
hal yang membedakan antara komunikasi dan dakwah terletak pada unsur pesannya
(message), karena dakwah adalah merupakan proses untuk melakukan amar ma‟ruf
nahi munkar yang bersandarkan ajaran-ajaran Islam yaitu Al-Qur‟an dan al Hadits
Nabi, sementara komunikasi unsur pesannya bersifat umum. Sementara menurut Toto
Tasmara yang membedakan antara dakwah dan komunikasi terletak pada cara dan
tujuan yang akan dicapai. Tujuan dari komunikasi mengharapkan adanya
partisipasi dari komunikan atas idea-idea atau pesan-pesan yang disampaikan
dari komunikator, sehingga dengan pesan yang disampaikan tersebut terjadilah
perubahan dan tingkah laku yang diharapkan. Sedangkan dakwah, ciri yang
membedakannya cara pendekatan menggunakan persuasif dan tujuannya yaitu
mengaharapkan perubahan sikap dan tingkah laku sesuai dengan ajaran-ajaran
Islam.[4]
Melalui
dakwah lintas budaya menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima di
semua lapisan masyarakat, meskipun berbeda sosio-kultural, maupun norma. Metode
dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama, menjadikan diterimanya
ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat majemuk. Untuk mencapai semua itu,
seorang da‟i harus mempunyai planning atau rencana yang disebut dengan
strategi. Strategi dalam dakwah lintas budaya harus dirancang dengan matang
sehingga tujuan dakwah bisa tercapai. Hal ini harus dengan mempertimbangkan
baik dari segi materi dakwah, maupun metodenya.
Proses
dakwah lintas budaya tidak bisa lepas dari proses komunikasi lintas budaya,
yang mana keduanya itu saling berhubungan. Di dalam dakwah lintas budaya
mengenal beberapa teori untuk interaksi antara da’i dan mad’u. Teori-teori
tersebut yaitu pertama, resistance theory (Teori Resistensi) atau teori penolakan.
Dasar asumsi teori ini adalah bahwa setiap aktivitas dakwah akan selalu
menghadapkan variabel da’i dan mad’u. Ketika interaksi terjadi penentangan
bahkan sikap dan respons penolakkan tak terelakan khususnya penolakan dari
mad’u. Penolakkan tersebut adalah konsekuensi logis akibat proses difusi budaya
dari budaya yang berbeda. Ada beberapa kemungkinan apabila teori resistensi ini
terjadi. Misalnya, terjadi gejolak budaya pada level mad’u begitu juga gejolak
pada diri sang da’i, atau terjadi gejolak antara da’i dan mad’u dalam suatu
kondisi. Terjadi dominasi salah satu kekuatan gagasan dan budaya baik pada da’i
maupun mad’u.