Dalam bahasa Indonesia, “dakwah”
diartikan sebagai upaya membangun masyarakat dengan kondisi yang beragam,
agama, kepercayaan, suku dan budaya yang beragam. Oleh karena itu, sebagai
multi budaya dengan berbagai agama dan kepercayaan, kerukunan dan toleransi yang
ditegakkan itu mahal, dan sangat penting untuk persatuan dan kesatuan bangsa.
Perselisihan antar kelompok agama yang berbeda dapat menimbulkan konflik dan
ketidaksepakatan dan pada akhirnya merugikan minoritas. Dalam konteks
multikulturalisme Indonesia, situasi ini tentunya membutuhkan strategi dakwah
yang khusus.
Motivasi ilmiah Islam memahami semangat
dakwah untuk menyampaikan pesan suci dan luhur yang bersumber dari ajaran
agama. Dalam kehidupan bermasyarakat, dakwah telah menjadi bagian dari kehidupan
dan gerak dinamis, yang membutuhkan jiwa luhur baik lahir maupun batin. Inti
dakwah setidaknya mencakup dua hal. Mengundang kebaikan dan mencegah kejahatan
atau pengkhianatan (amar ma'ruf nahi munkar). Pada hakikatnya dakwah adalah
pendidikan masyarakat, dan pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita
pendidikan nasional. Tujuan yang ditetapkan oleh pendidikan nasional ini
memandang moral agama sebagai bagian penting dari proses dakwah.
Sasaran dakwah adalah mereka yang
membutuhkan hiburan. Ketika pemandu berisi unsur hiburan, mereka akan menerima
pesan. Dengan cara ini dakwah menjadi semacam informasi yang menarik. Dai
sepertinya seorang penampil panggung, demi kepuasan penonton, ia harus pandai
berimprovisasi. Ini hanyalah salah satu contoh komunitas dimana kegiatan dakwah
menghadapi perbedaan budaya, hobi, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan
perbedaan lainnya.
Dalam menyampaikan ajaran agama, dakwah
tidak harus menjaga jarak dengan budaya lokal. Perlunya memperlakukan berbagai
budaya dalam masyarakat secara adil sebagai titik awal sosialisasi ajaran
agama. Sejak Islam masuk ke Indonesia, Islam telah lama menjadi metode dakwah
melalui kombinasi pedoman dan kacamata. Misalnya pada masyarakat Jawa, peran
Sunan Kalijaga sudah tidak asing lagi dengan penggunaan media kesenian wayang
sebagai media dakwah. Jenis seni ini merupakan alat penting sarana budaya.
Sebagai objek multikulturalisme yang
kompleks, konsekuensinya juga memerlukan langkah dan strategi yang kompleks.
Dimanapun Dawa berada dan melalui Madia manapun, tujuannya adalah untuk
menyeimbangkan perkembangan masyarakat dan budaya sekuler yang murni
dikomersialkan. Meski masih perlu diperdalam lebih jauh, karena tidak mungkin
memahami langsung dampak kegiatan dakwah, betapa beratnya bobotnya. Namun,
setidaknya jika dipadukan dengan kegiatan lain (seperti kegiatan di bidang
bisnis) dan inovasi di bidang pendidikan, dapat tetap sinkron pada saat yang
bersamaan. Berdasarkan argumen ini, dakwah multikulturalisme membutuhkan
sinergi antara ormas Islam, ormas Islam, dan ormas di bawah pemerintahan, dan
hal-hal berikut ini perlu diperhatikan:
1.
Masyarakat
multikultural adalah tujuan Dakwah, yang harus dimaknai sebagai kesediaan untuk
menerima perbedaan dari kelompok lain.
2. Kelompok pemeluk
agama yang berbeda dalam masyarakat dapat melindungi diri dan tidak melakukan
dakwah agama. Di sisi lain, masyarakat ingin mereka mencari titik temu sehingga
tidak membuka peluang konflik antar agama.
3. Lembaga Dakwah sangat penting dalam memperkuat masyarakat
multidisiplin. Sebagai lembaga kemasyarakatan, Lembaga Dakwah perlu
meningkatkan kemampuannya dalam menyelenggarakan olahraga guna mengembangkan
potensi yang besar untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, serta membangun
kreativitas dan rekayasa sosial.
4. Kepatuhan terhadap hukum juga diartikan
sebagai kepatuhan terhadap nilai-nilai yang telah ditetapkan bersama, yang
bertumpu pada ajaran agama, tradisi, dan hasil dari proses adaptasi dan
integrasi antar budaya. Hubungan yang harmonis antar individu dan antar
kelompok agama yang berbeda serta antar latar belakang budaya dan ras yang
berbeda harus dijaga dengan baik, tanpa merasa terpaksa atau dipaksa oleh
partai politik lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar